Hujan

Hujan


gambar.1.



sherlysetyawan.blogspot.co.id. Hujan mengingatkan ku pada hari itu. Aku Rachel Minagara,aku duduk di kelas XII SMA 45 Nusa Bangsa. Tempat dimana aku mencintai seseorang yang menjadi temanku. Dia bernama Firsya Ananda. Dia adalah seorang yang baik pada semua termasuk sama padaku. Dia menjaga ku dengan baik dan dia pun tak pernah sedikit pun ngecewain aku saat apa pun,meski pun aku dengan dia hanyalah sebatas teman.

Siang itu saat pulang sekolah hujan sangat deras,Firsya mengajakku pulang bareng dengan motornya namun menunggu agar hujan sedikit reda. Setelah hujan reda dia mengajakku untuk naik motor dan pulang bersamanya,dan saat di tengah perjalanan saat pulang ternyata hujan kembali turun,Firsya pun menepikan motornya di sebuah halte sembil menunggu hujan kembali reda. Dia melihat ku kedinginan “lo kenapa Chel? Lo kedinginan yha?” aku hanya mengangguk. “yah,gue gak bawa jaket lagi,gimana dong?” ujarnya. “gak papa kok.” Jawabku seraya tersenyum dan sambil mengelus-elus lenganku yang terasa dingin. Tiba-tiba dia melepaskan sragamnya “eh..lo mau ngapain coba?” dengan terkejutnya aku mengatakan hal tersebut. “yeee apaan sih lu,gue gak bakal ngapa-ngapain lo,gue masih waras kali Chel.” .jawabnya seraya menanggalkan sragamnya di bahuku “biar kayak yang di tv-tv kan gitu,yaaa biar kelihatan romantis dikit lah..hehehe” katanya.aku pun hanya tertawa sambil menyiku perutnya “yeee,apaan sih lu.ada-ada aja.tapi,thaks yha Fir.” Dia pun tersenyum dan sedikit menyunggingkan alisnya.

Setelah menunggu cukup lama juga akhirnya hujan pun reda.”Fir,hujannya udah lumayan reda nih,kita pulang yuk…nih pake lagi sragam lo,,thaks” kataku. Karna sebenarnya ibu-ibu yang berada di sebelah aku sempet memperhatikan tingkah polah ku dan Firsya. “iya apa sih yang gak buat lo.” Jawabnya sedikit menggoda yang membuat ku bahagia juga sih. “yeee…apaan sih lu,canda mulu ah (dalam hati ku “kapan seriusnya”) udah lah ayo pulang,nanti keburu hujan lagi.” ujarku padanya sambil mendorong dia menuju motornya. Dia pun hanya tertawa.


Sesampainya didepan rumahku pun aku segera turun dari motornya. “thaks ya Fir.” Kataku. ”perasaan, lo dari tadi ngomong makasih mulu Chel, ya kalik ngasih uang kek atau apa gitu.hehehe” jawabnya. (aku cuman senyum kebingungan)
“yak ilaahh…enggak-enggak,gue bercanda kok Chel.Jangan panik gitu napa.lucu tauk kalo liat muka lo ke’ gitu”
“yeee…apaan sih lu” (aku senyum sambil menutupi pipi ku yang mungkin memerah)
“udah masuk rumah gih.Mandi,makan trus istirahat”
“Ciiee..perhatian banget.hehe..iya deh gue masuk dulu ya.daaa Fir”
Dan dia senyum dengan melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan rumahku.

Keesokkan harinya kami bertemu kembali di sekolah.
“pagi,Chel…” sapanya padaku
“oh,hay…pagi juga Firsya” aku menjawab sapanya dengan senyuman
“Gimana pagi ini??” tanyanya
“yaa…seperti apa yang lo lihat” jawabku
“Nanti siang makan bareng yha,gue tunggu lo di kantin.” Ajaknya
“oke” jawabku singkat dengan senyum dan mengacungkan jempol

Setelah itu itu kami berpisah aku masuk ke dalam kelas ku dia pun masuk ke dalam kelasnya. Dan setelah 2 jam lamanya pembelajaran akhirnya bel istirahat pun bunyi. Setelah guru mapel ku saat itu keluar dari kelas dan dengan perlahan-lahan siswa pun keluar dengan tujuan masing-masng termasuk aku.
Setelah itu aku pun menuju kanti,yang sepertinya Si Fisya sudah lebih dulu menunggu ku di sana. Akhirnya kita duduk berhadapan di meja yang sama dengan cemilan masing-masing.
“Oh iya,gimana tadi di kelas?” Tanyanya padaku. Mungkin untuk mengisi pembicaraan kami agar tak sepi.
“yhaa seperti itulah…sedikit membosankan…” jawabku dengan rasa letih karna tadi adalah mapel yang tak ku sukai ya itu mata pelajaran Fisika. Karna menurutku sulit untuk mengerti rumus-rumus itu dan yang pasti karna guru mata pelajaran tersebut terkenal sangat galak.
“yaa maklum lah,lo kan paling gak suka sama mata pelajaran fisika,jadi semudah apapun masih aja lo anggep susah.hehehe…” saurnya sambil sedikit mengejekku
“yeee…apaan sih lo…tapi kan lo juga tau sendiri bu Mita kaya apa”
“hehe..iya iya gue ngerti kok…”
            Dan tak lama kemudia waktu 15 menit untuk istirahat itu pun selesai,bel yang menandakan waktu untuk masuk ke dalam kelas pun telah bunyi.
“eh..dah masuk tuh,,buruan gih masuk kelas sebelum lo kena semprot sama bu Mita.” Pintanya sambil memberiku kode agar aku cepat-cepat menuru kelas
“hiya-iya gue duluan yha Fir,bey…thaks waktunya” jawabku sambil berdiri
“hem…sama-sama” jawabnya sambil memberika sedikit senyuman pada ku
Karna kelas ku XII-IPS 1 ada di ujung lanting 2 sekolahanku jadi aku berlarian kecil kemuju kelas.

Firsya yang masih di kanti,saat ia hendak membayar pesanannya dengan Rachel ternyata di meja tersebut terdapat buku diary berwarna putih yang terdapat tulisan dengan nama Rachel Minagara dengan sedikit heran Firsya melihat buku tersebut sambil mengernyitkan dahinya “perempuan seperti dia ternyata butuh buku diary juga” pikirnya sambil tersenyum,dan dengan rasa tanpa bersalah dia membaca semua isi buku diary tersebut. Saat ia tahu apa isi dalam buku diary tersebut dia pun senang bahwa perasaannya terhadap Rachel tak bertepuk sebelah tanagn,karna ternyata selama ini Rachel juga menyukainya. Dan dia berencana akan mengembalikan buku tersebut nanti saat pulang sekolah dan sekalian untuk menanyakan soal perasaan Rachel terhadapnya.

Setelah lama kemudian bel pulang pun berbunyi. Dengan rasa sangat senang dan gembira dia berlari menuju Rachel yang berada di pinggir jalan.
“Rachel” sesaat sesampainya ia di tengah jalan dan ‘brak’
“Firsya…” teriaknya dengan derai air mata
Sesaat kemudian ambulace datang,membawa Firsya menuju rumah sakit,namun saat di tengah perjalanan Firsya masih dapat siuman dan dia sempat berkata,dengan terbata-bata karna menahan sakit “Rachel Minagara,gue saying sma lo,gue suka sama lo.pliss…lo jaga diri lo baik-baik dan gue mohon lo jangan nangis”
Dengan derai air mata aku menjawab “gue juga sayang sama lo Fir,gue suka sama lo…plis jangan tinggalin gue,jangan pergi Fir… gue gak mau sendirian,gue gak mau lo ninggalin gue disini sendiri Fir,gue gak mau Fir…gue gak mau…” aku peluk tibuhnya tang bercucuran darah. Tapi sayang sebelum dia sampai di rumah sakit dia udah ninggalin aku tuk selama-lamanya.

Sakit memang jika mengingat saat-saat bersamanya dulu yang kini telah menjadi kenangan. Dan kenangan yang tak bias ku lupakan saat bersamanya adalah saat hujan turun. Namun,kini aku hanya bias terdiam menikmati secangkir coklat panas yang ada di genggamanku saat ini. Tapi aku tak ma uterus-terusan mengingat kejadian 5 tahun silam tersebut,karna pesan terakhirnya bahwa aku gak boleh sedih dan terus-terusan merasa sendiri,karna tetap saja selamanya dia akan slalu di hatiku. Dengan berdo’a aku masih bias memeluknya dari sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Cinta Anak Remaja Jaman Sekarang

Jantungmu Jantungku

Antara Aku Kau Dan Orang Tua Ku